Halaman

    Social Items

Acara seni dan budaya Eksotika Bromo dipentaskan lagi sebelum upacara Yadnya Kasada pada hari Jumat, 29 Juni. Menurut Saka (kalender lunar Hindu yang digunakan oleh penduduk asli Bromo), sekarang tahun 1940. Diadakan di atas tanah Gunung Bromo, Yadnya Kasada dimulai dengan prosesi yang dilakukan oleh pejabat desa, membawa engkek (persembahan) dari Pura Agung (Kuil Agung). Persembahan itu dilemparkan ke kawah gunung pada hari Sabtu, 30 Juni, jam 4 pagi.
Eksotika Bromo Tahunan menghidupkan upacara 'Yadnya Kasada'
Eksotika Bromo Tahunan menghidupkan upacara 'Yadnya Kasada'


Suku Tengger, penduduk asli Gunung Bromo, tinggal di 60 desa di sekitar gunung, yang terdiri dari Kabupaten Probolinggo, Lumajang dan Pasuruan dan kota Malang. Ketua panitia penyelenggara Eksotika Bromo Heri Lentho Prasetyo menjelaskan bahwa acara ini menampilkan pertunjukan musik Bale Ganjur dari Probolinggo, pertunjukan teater Jaranan Slining dari Lumajang, tarian Reog dari Ponorogo dan parade Tengger Jaranan, di mana jaranan berarti mainan kuda.

Eksotika Bromo juga akan menggelar pertunjukan teater tari Tengger Kidung kolosal oleh komunitas Jatiswara, serta pembacaan puisi Nyawiji.

"Acara ini diadakan bersamaan dengan 100 momen Wonderful Indonesia, yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan industri kreatif pariwisata," kata Heri kepada The Jakarta Post.

Upacara Yadnya Kasada berfungsi sebagai cara orang Tengger untuk menyatakan penghargaan kepada dewa-dewa mereka, yang mereka yakini telah memberi mereka berkat, kelimpahan, dan kesejahteraan.

Tengger adalah portmanteau dari nama Roro Anteng dan Joko Seger, yang diyakini nenek moyang suku tersebut. Orang-orang menjalankan tradisi mempersembahkan panen dan ternak kepada dewa-dewa mereka melalui kawah Gunung Bromo setiap hari ke 14 bulan Kasada menurut kalender mereka.

Biasanya ada peresmian dukun baru yang memperpanjang sholat dan upacara persembahan, tetapi itu tidak akan terjadi tahun ini.

Eksotika Bromo Tahunan menghidupkan upacara 'Yadnya Kasada'

Acara seni dan budaya Eksotika Bromo dipentaskan lagi sebelum upacara Yadnya Kasada pada hari Jumat, 29 Juni. Menurut Saka (kalender lunar Hindu yang digunakan oleh penduduk asli Bromo), sekarang tahun 1940. Diadakan di atas tanah Gunung Bromo, Yadnya Kasada dimulai dengan prosesi yang dilakukan oleh pejabat desa, membawa engkek (persembahan) dari Pura Agung (Kuil Agung). Persembahan itu dilemparkan ke kawah gunung pada hari Sabtu, 30 Juni, jam 4 pagi.
Eksotika Bromo Tahunan menghidupkan upacara 'Yadnya Kasada'
Eksotika Bromo Tahunan menghidupkan upacara 'Yadnya Kasada'


Suku Tengger, penduduk asli Gunung Bromo, tinggal di 60 desa di sekitar gunung, yang terdiri dari Kabupaten Probolinggo, Lumajang dan Pasuruan dan kota Malang. Ketua panitia penyelenggara Eksotika Bromo Heri Lentho Prasetyo menjelaskan bahwa acara ini menampilkan pertunjukan musik Bale Ganjur dari Probolinggo, pertunjukan teater Jaranan Slining dari Lumajang, tarian Reog dari Ponorogo dan parade Tengger Jaranan, di mana jaranan berarti mainan kuda.

Eksotika Bromo juga akan menggelar pertunjukan teater tari Tengger Kidung kolosal oleh komunitas Jatiswara, serta pembacaan puisi Nyawiji.

"Acara ini diadakan bersamaan dengan 100 momen Wonderful Indonesia, yang bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan industri kreatif pariwisata," kata Heri kepada The Jakarta Post.

Upacara Yadnya Kasada berfungsi sebagai cara orang Tengger untuk menyatakan penghargaan kepada dewa-dewa mereka, yang mereka yakini telah memberi mereka berkat, kelimpahan, dan kesejahteraan.

Tengger adalah portmanteau dari nama Roro Anteng dan Joko Seger, yang diyakini nenek moyang suku tersebut. Orang-orang menjalankan tradisi mempersembahkan panen dan ternak kepada dewa-dewa mereka melalui kawah Gunung Bromo setiap hari ke 14 bulan Kasada menurut kalender mereka.

Biasanya ada peresmian dukun baru yang memperpanjang sholat dan upacara persembahan, tetapi itu tidak akan terjadi tahun ini.

No comments